Apa Indonesia sudah mampu berdemokrasi?

24 04 2008

Kejadian Pemilu Gubernur Jabar beberapa waktu kemarin cukup mengejutkan banyak pihak. Pemenang pesta demokrasi di Jabar itu adalah pasangan muda yang didukung sedikit partai politik dan termasuk underdog. Beberapa survey sebelumnya juga menempatkan mereka di urutan terbawah.

Tapi, kepopuleran dari wakilnya dan suksesnya menyampaikan visi di kampanye merubah keadaan. Tapi… apa yang sebenarnya membuat mereka menang? visi yang bagus, atau hanya kepopuleran artis?

Saya berbincang dengan beberapa orang di rumah pacar saya mengenai hal ini. Mereka memiliki pendidikan yang relatif rendah dan kondisi ekonomi rendah pula. Saya bertanya, kenapa mereka memilih pasangan tersebut di Pemilu? Unik juga jawaban yang mereka berikan. Ada yang menjawab, “itu kan yang maen film deru debu kan? da mang mah yang laen mah gak tau”. ada juga yang menjawab, “emang mah milih semuanya aja, karunya”. Tak ada satupun yang menjawab secara logis dan berdasarkan pemikiran matang.

Saya juga jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Saya menjadi surveyor ke daerah tentang pemilu presiden. ada yang sangat menarik dari yang mereka jawab tentang kenapa mereka memilih partai atau pasangan capres tertentu, 9 dari 10 orang yang saya survey hanya menjawab, “naon sih poho, da emak mah saur pak lurah milih eta, nya eta we”. Hanya satu yang menjawab dengan alasan yang cukup bagus. dan itu pun pak RW dengan pendidikan D3.

Tidak hanya kalangan bawah yang tidak menjalankan perannya dengan baik di pemilu ini. Beberapa teman saya hanya asal memilih dalam pilgub, bahkan banyak yang tidak memilih. Bayangkan, suara yang masuk hanya sekitar 17 juta, artinya ada sekitar 9,7 juta golput. bahkan, diantara suara yang masuk sekitar 800 rb tidak sah. Kemana kepedulian mereka?

Apa Indonesia sudah mampu berdemokrasi?

Mungkin belum. Mahasiswa yang kritis saja hanya bisa demo tanpa bukti yang cukup nyata. Setelah bekerja, rata-rata dari mereka lupa dengan idealisnya.

Butuh pendidikan yang cukup dan budaya perduli terhadap lingungan yang dibangun di masyarakat indonesia sebelum kita mencapai demokrasi yang layak.

Sekarang? Lebih baik kita berada di era yang tertekan seperti Soekarno dan Soeharto….





ISLAM…. THE BEGGAR

15 01 2008

2 hari kemaren saya lewat jalan caringin bandung. di situ ada beberapa orang (kebanyakan ibu2), mengeluarkan jaring meminta sumbangan. di sampingnya ada sebuah papan besar bertuliskan “sumbangan pembangunan masjid arraudah. dana yang dibutuhkan Rp. 853 jt, dana yang telah dikumpulkan Rp. 43 jt”. Woah!

waktu baca itu saya langsung inget kejadian yang sama sekitar bulan lalu. dengan perincian biaya yang kurang lebih sama. kenapa harus buat mesjid kalo dana yang dimiliki terlalu minim? apa mesjid sekarang kurang? apa gak ada cara lain untuk nyari uang dibanding di jalanan?

kita juga bisa liat kejadian lain. dimana makin banyak pengemis (yang terlihat sebagai pengemis) di jalanan  dan pengemis (yang berprilaku mengemis) di gedung-gedung megah dengan menjilat. Kita bisa liat, gimana mereka pura-pura lemah di jalanan padahal punya hidup yang layak di kampung, bahkan cenderung kaya. Gimana mereka menjilat atasan demi tahta dan harta. Gimana mereka saling sikut di pembagian hewan kurban. Gimana mereka injak menginjak dan menipu di pembagian BLT dari pemerintah.

ironisnya, kebanyakan adalah orang muslim yang Rasulnya berkata ,”lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah” dan diperintahkan berzakat sebagai salahsatu rukun islam (zakat hanya diwajibkan bagi orang-orang yang telah nishab atau berkecukupan). 

Cukup! semua kejadian itu malah mencoreng nama umat islam sendiri. umat islam tidak seharusnya meminta. umat islam harusnya terus berusaha sampai bisa memberi dan memberi sangat banyak. Islam bukanlah agama para pengemis, umatnya juga tidak diajarkan menjadi pengemis. Islam mengajarkan kita untuk menjadi yang terbaik dan terus berusaha, agar kita lebih mandiri dan dapat membantu yang lain.

kebanyakan (kebanyakan bukan berarti semuanya) orang islam di indonesia hanya pandai untuk mengemis, sebagian lagi menyumbang untuk pamor (riya), hanya sedikit orang dermawan yang bener2 tulus.

Siapa kita? orang dermawan yang bener2 tulus, atau jenis yang lainnya?