mudik yang bahaya

14 09 2010

pagi ini saya sedang cukup santai menonton berita pagi hari. disana ada bapak yang diwawancara sedang mengendarai motor. bapak ini diberhentikan oleh pihak kepolisian karena dianggap terlalu banyak membawa angkutan.

bapak ini membawa box besar di depan antara stang dan dia sendiri, ada anak kecil sekitar TK diantara bapak ini dan istrinya. dibelakang istrinya, ada anak sekitar smp yang duduk di sangat ujung kursi motor. di kondisi sempit surempit itu, sang istri masih menggendong anak yang masih bayi. dalam pikiran saya, “gak sayang anak apa tu orang?!?!”

untuk sebuah waktu bersama keluarga, keliatannya resiko itu terlalu besar. untuk waktu bersama keluarga yang bisa dilakukan lain kali, kehilangan keluarga sepertinya tidak sepadan. untuk bersama dengan keluarga dengan gembira, resiko berkumpul di pemakaman bukan pilihan…

semoga kita tidak seperti itu. kita menjadi orang yang mengerti betul apa yang seharusnya menjadi proritas.

** btw, jangan tanya rasanya mudik ke saya. selama ini cuma mudik ke buahbatu dan soreang dari sarijadi (mudik di satu kota bandung )… ^^





dimanakah Allah?

13 09 2010

dari kecil saya mendengar banyak cerita berbagai versi mengenai dimana keberadaan Allah. ada cerita masa kecil yang bilang kita akan bertemu Allah di surga. cerita yang membuat saya percaya (waktu itu) Allah berada di surga. Lalu pemahaman Allah berada di mana-mana diajarkan ketika saya sekolah. Tapi, budaya di Indonesia seringkali mengatakan “gimana yang di atas”, atau berdo’a sambil menengadahkan kepala dan mengangkat tangan seakan Allah berada di atas langit.

meskipun pada akhirnya kita tidak akan pernah tahu dimana sebenarnya Allah berada, saya punya pemahaman sendiri soal dimana Allah. Dan hal ini yang membuat saya lebih nyaman untuk merasa berkomunikasi dengan-Nya. pemahaman ini didasarkan pada sebuah hadist yang berkata

“Allah berada dimana-mana” dan “Allah berada lebih dekat dari urat nadi”

Dimana itu? jawabannya cuma satu… salahsatunya, Allah berada di lubuk hati kita sendiri, atau biasa disebut qolbu oleh AA Gym dkk, atau Deep in your heart kalo bahasa orang bule, atau jero hate bahasa jermanya mah :D

Allah Maha Tahu, dan Allah mengerti betul apa yang kita rasakan dan kita pikirkan karena Allah berada dalam diri kita sendiri. Ketika kita bingung, kita sholat istikharoh untuk digerakan hatinya, atau mengerti lewat mimpi, karena Allah berada di dalam diri kita. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, karena Allah berada di dalam diri kita. tidak perlu ada kata TAKUT, karena allah berada dalam diri kita.

“follow your heart, because Allah that in your deepest heart” -R.D.-





do’a dan the secret…

13 09 2010

“No rules according to the universe .. you provide the feelings of having it now and the universe will respond” – The Secret

Konsep yang menarik diuraikan di buku The secret tentang keinginan dan bagaimana keinginan itu tercapai. Ketika kita memikirkan sesuatu sampai sesuatu itu begitu nyata di pikiran kita, alam semesta akan menggerakan semuanya untuk keinginan itu benar-benar terjadi.

Konsep itu sangat terkenal, hampir semua buku tentang kesuksesan pasti membicarakan tentang impian dan berpikir positif. Sebuah konsep yang tidak masuk akal tapi memang terjadi di dunia ini. Kalau saja konsep ini tidak benar, lalu mengapa semua buku menceritakan hal yang sama? tapi tetap saja ini masalah keyakinan. kebanyakan orang bukanlah believer yang bisa percaya, karena itu hanya sedikit yang benar-benar sukses di dunia… dan akhirat…

Menariknya, konsep ini sebenarnya sudah sangat lama disampaikan oleh seorang buta huruf dari negri arab, Rasulullah SAW. Semua orang islam diajarkan untuk berdo’a. Dari saat sebelum memulai sesuatu dengan Bismillah, dan sampai akhirnya selesai dengan Alhamdulillah.

Jika melihat konsep the secret dari kacamata agama islam, konsep tersebut akan terlihat seperti ini. “Ketika kita berdo’a dengan sangat yakin, sampai do’a semustahil apapun bisa terkabul atas kekuasaan Allah, Allah bisa saja mengijabah do’a kita dengan menggerakan segala sesuatunya”. Alam semesta hanya sebagian kecil dari kekuasaan Allah.

Tapi akan muncul pertanyaan seperti ini, “bagaimana saya mau yakin? bagaimana gambaran itu begitu dekat? ketika do’a saja, kebanyakan artinya saya tidak tahu”.

Kunci untuk mengaplikasikan konsep ini, berdo’a lah dengan do’a yang benar-benar kita mengerti. Berdo’a lah yang sesuai dengan keinginan kita. jika kita tidak mengerti do’a yang kita baca, kenapa tidak dengan bahasa sendiri? berdo’a dengan bahasa yang kita ucapkan dan di benak kita menggambarkan do’a itu. atau kita belajar mengerti apa arti dari do’a yang kita baca agar keyakinan itu begitu dekat…

Cara berdo’a yang paling suka saya lakukan bukanlah duduk dan mengangkat tangan. saya lebih suka bersujud dan menutup mata. karena saya yakin dengan sebuah hadist yang mengatakan, “Jarak terdekat kamu dengan Tuhan-mu adalah ketika kamu bersujud” (maaf lupa hadist siapa >,<). Dan ketika bersujudlah saya merasa bisa berkomunikasi dengan-Nya…

“Qun Fa Ya Qun”

“Terjadi! maka Terjadilah”





berbuat baiklah! meskipun balasannya belum tentu terasa baik…

11 09 2010

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

liat status di BB salahsatu temen lama jadi ngingetin soal cerita lalu hidup ini.

suatu hari saya pernah mempertanyakan. selama beberapa tahun saya sudah berbuat yang terbaik untuk seseorang, tapi kenapa yang saya dapatkan seperti ini? (kalau denger ceritanya, temen2 pasti bilang “surem bener nasib loe di!:P”). tapi akhirnya saya menemukan sebuah jawaban menarik. “Allah memberikan kita kebaikan apa yang baik menurut-Nya, tapi seringkali itu tidak terasa baik bagi kita”. Tapi yakinlah, apapun yang Allah berikan pasti yang terbaik untuk kita. Karena kita telah berbuat baik. Mungkin balasannya bukan saat ini, tapi ketika kita meninggal nanti. Insya Allah balasannya hal terbaik menjadi manusia… SURGA… amin

seorang teman menulis tentang hidup yang bisa di ctrl-Z (tombol untuk undo, klik disini tuk baca postnya). apa yang kita lakukan jika hidup bisa diulang? kesalahan apa yang kita perbaiki? mungkin banyak dari temen2 ingin merubah ini itu. tapi, setelah banyak cobaan yang menimpa diri saya, saya yakin satu hal, “saya akan lakukan persis seperti yang saya lakukan sebelumnya”. Kenapa? karena saya berdo’a untuk mendapatkan yang terbaik, dan inilah hasil do’a saya. Best life I’ve ever and would get :)

tapi kan itu semua hanya berdasarkan keyakinan…

kita bicara tentang hukum reaksi. “Action create reaction”. ketika seseorang berbuat baik, dia akan mendapat balasan yang baik. ketika kita berbuat buruk, balasannya akan buruk juga. sebuah hukum fisika yang menjelaskan semua ini.

lalu coba kita lihat film bruce almighty. gambaran menarik ketika tuhan “mengabulkan semuanya” dan semua terasa menyenangkan di kita. hasilnya? super duper chaotic hazzard (ngaco -red :p). ini juga yang akan terjadi ketika semua kebaikan dibalas dengan apa yang diinginkan manusia.

from the worst feeling i get from life… saya mendapatkan sebuah quote. “Life is to give, death is to get”

semakin besar yang kau berikan di hidup ini pasti akan dibalas, tapi berharaplah dibalas ketika kita meninggal… di SURGA ^^





Membuat orang lain bahagia – salahsatu sifat fitrah

10 09 2010

sudah lama tidak menulis. tiba-tiba muncul keinginan lagi untuk menulis setelah sholat ied…

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah” – Rasulullah SAW

Begitu besar pengaruh dunia ini yang membuat manusia memiliki ambisi, keinginan, dan hasrat yang besar untuk memiliki. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi seringkali sikap yang diambil membuat orang lain tidak senang. Sering juga, ketika mendapatkan ambisi itu, bukan kebahagiaan sebenarnya yang didapat, hanya kebahagiaan semu dari pencapaian yang terasa besar. Lalu, apa sebenarnya sikap dasar manusia?

Membayangkan pernyataan itu, saya langsung teringat ketika 2 keponakan yang dalam 1 tahun ini lahir. Ketika mereka lahir, semua TERSENYUM DAN BAHAGIA. Ketika kita lahir di dunia yang dalam keadaan fitrah, semua orang yang melihat tersenyum dan bahagia. Artinya, salahsatu sifat fitr (dasar -red) manusia adalah membuat orang sekitarnya tersenyum bahagia.

Cobalah kawan… Sangat bahagia ketika kita mendapatkan yang kita inginkan.. tapi lebih bahagia ketika kita ada yang bersyukur telah kita buat bahagia ^^





Apa Indonesia sudah mampu berdemokrasi?

24 04 2008

Kejadian Pemilu Gubernur Jabar beberapa waktu kemarin cukup mengejutkan banyak pihak. Pemenang pesta demokrasi di Jabar itu adalah pasangan muda yang didukung sedikit partai politik dan termasuk underdog. Beberapa survey sebelumnya juga menempatkan mereka di urutan terbawah.

Tapi, kepopuleran dari wakilnya dan suksesnya menyampaikan visi di kampanye merubah keadaan. Tapi… apa yang sebenarnya membuat mereka menang? visi yang bagus, atau hanya kepopuleran artis?

Saya berbincang dengan beberapa orang di rumah pacar saya mengenai hal ini. Mereka memiliki pendidikan yang relatif rendah dan kondisi ekonomi rendah pula. Saya bertanya, kenapa mereka memilih pasangan tersebut di Pemilu? Unik juga jawaban yang mereka berikan. Ada yang menjawab, “itu kan yang maen film deru debu kan? da mang mah yang laen mah gak tau”. ada juga yang menjawab, “emang mah milih semuanya aja, karunya”. Tak ada satupun yang menjawab secara logis dan berdasarkan pemikiran matang.

Saya juga jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Saya menjadi surveyor ke daerah tentang pemilu presiden. ada yang sangat menarik dari yang mereka jawab tentang kenapa mereka memilih partai atau pasangan capres tertentu, 9 dari 10 orang yang saya survey hanya menjawab, “naon sih poho, da emak mah saur pak lurah milih eta, nya eta we”. Hanya satu yang menjawab dengan alasan yang cukup bagus. dan itu pun pak RW dengan pendidikan D3.

Tidak hanya kalangan bawah yang tidak menjalankan perannya dengan baik di pemilu ini. Beberapa teman saya hanya asal memilih dalam pilgub, bahkan banyak yang tidak memilih. Bayangkan, suara yang masuk hanya sekitar 17 juta, artinya ada sekitar 9,7 juta golput. bahkan, diantara suara yang masuk sekitar 800 rb tidak sah. Kemana kepedulian mereka?

Apa Indonesia sudah mampu berdemokrasi?

Mungkin belum. Mahasiswa yang kritis saja hanya bisa demo tanpa bukti yang cukup nyata. Setelah bekerja, rata-rata dari mereka lupa dengan idealisnya.

Butuh pendidikan yang cukup dan budaya perduli terhadap lingungan yang dibangun di masyarakat indonesia sebelum kita mencapai demokrasi yang layak.

Sekarang? Lebih baik kita berada di era yang tertekan seperti Soekarno dan Soeharto….





ISLAM…. THE BEGGAR

15 01 2008

2 hari kemaren saya lewat jalan caringin bandung. di situ ada beberapa orang (kebanyakan ibu2), mengeluarkan jaring meminta sumbangan. di sampingnya ada sebuah papan besar bertuliskan “sumbangan pembangunan masjid arraudah. dana yang dibutuhkan Rp. 853 jt, dana yang telah dikumpulkan Rp. 43 jt”. Woah!

waktu baca itu saya langsung inget kejadian yang sama sekitar bulan lalu. dengan perincian biaya yang kurang lebih sama. kenapa harus buat mesjid kalo dana yang dimiliki terlalu minim? apa mesjid sekarang kurang? apa gak ada cara lain untuk nyari uang dibanding di jalanan?

kita juga bisa liat kejadian lain. dimana makin banyak pengemis (yang terlihat sebagai pengemis) di jalanan  dan pengemis (yang berprilaku mengemis) di gedung-gedung megah dengan menjilat. Kita bisa liat, gimana mereka pura-pura lemah di jalanan padahal punya hidup yang layak di kampung, bahkan cenderung kaya. Gimana mereka menjilat atasan demi tahta dan harta. Gimana mereka saling sikut di pembagian hewan kurban. Gimana mereka injak menginjak dan menipu di pembagian BLT dari pemerintah.

ironisnya, kebanyakan adalah orang muslim yang Rasulnya berkata ,”lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah” dan diperintahkan berzakat sebagai salahsatu rukun islam (zakat hanya diwajibkan bagi orang-orang yang telah nishab atau berkecukupan). 

Cukup! semua kejadian itu malah mencoreng nama umat islam sendiri. umat islam tidak seharusnya meminta. umat islam harusnya terus berusaha sampai bisa memberi dan memberi sangat banyak. Islam bukanlah agama para pengemis, umatnya juga tidak diajarkan menjadi pengemis. Islam mengajarkan kita untuk menjadi yang terbaik dan terus berusaha, agar kita lebih mandiri dan dapat membantu yang lain.

kebanyakan (kebanyakan bukan berarti semuanya) orang islam di indonesia hanya pandai untuk mengemis, sebagian lagi menyumbang untuk pamor (riya), hanya sedikit orang dermawan yang bener2 tulus.

Siapa kita? orang dermawan yang bener2 tulus, atau jenis yang lainnya?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.